asp1

Advertisements

asp2

audit 2audit 2

Duhai cermin, siapakah wanita tercantik di dunia? Duhai cermin, apakah saya dapat menjadi wanita tercantik? Cermin yang selalu jujur apa adanya pun berkata. Menjelaskan panjang lebar dan penuh makna kepada sang wanita yang telah bertanya..

“Kecantikan itu tidak bisa dinilai hanya dari mata. Cantik rupa dan fisiknya saja bukanlah hal yang mengesankan. Kecantikan itu tidak akan abadi. Kecantikan itu akan digerogoti oleh usia. Kecantikan seperti itu akan sirna dan mati.

Kecantikan juga tidak hanya sebatas manis pada tutur kata dan tingkah yang manja. Suara yang mendayu. Perilaku yang menebar pesona. Kecantikan tidak dinilai dari sudut itu wahai wanita.

Kecantikan itu hanya bisa dirasakan oleh hati. Orang barat mengenalnya dengan inner beauty. Kecantikan jiwa dan hati. Islam mengenalnya dengan kecantikan ruhani. Kecantikan yang terpancar karena keshalihan pribadi yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya kecantikan itu merupakan cerminan hati yang bersih dan jiwa yang selalu merindukan ridha-Nya”

Duhai cermin, apakah kecantikan yang seperti itu sudah saya miliki? Duhai cermin, untuk siapakah kecantikan itu nantinya saya persembahkan? Cermin yang tidak pernah berdusta kembali menjawab. Bercerita penuh arti kepada wanita yang sama…

“Kecantikan seperti itu akan datang seiring dengan kesiapanmu menjadi seorang ibu. Maka sudah siapkah engkau menjadi seorang ibu wahai wanita? Kecantikanmu itu pun hanya dihalalkan untuk suamimu. Seseorang yang mencintaimu karena Allah. Kecantikan itulah yang akan mengantar engkau bersama suamimu menuju pintu surga-Nya”

Duhai cermin, bagaimana saya mendapatkan kecantikan itu? Itulah pertanyaan terakhir saya…

Cermin pun menjawab :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” QS. 24: 31

Bukan!!! Bukan mengenai ada tidaknya kehidupan di Mars atau eksistensi Nessie sang penghuni Loch Ness. Bukan pula tentang Area 51 di Nevada sana yang konon menyimpan jasad alien yang nyasar ke bumi.

Iya!!!! Misteri terbesar abad ini adalah kenapa walaupun kita mentaati cara penyajian yang ada di bagian belakang bungkus mie instan, tapi tetep aja gak bisa jadi kayak yang di bungkus depannya. Yahhh itulah misterinya kawan. Sungguh misterius sekali bukan??

Tapi ada yang jauh lebih spektakuler dari itu. Apakah itu??

Hal yang jauh lebih spektakuler pernah dilakukan oleh para akhwat dari suatu organisasi pergerakan mahasiswa Islam. Mereka berhasil melakukan sebuah modifikasi yang sangat mengejutkan’ yang apabila produsen mie instan sekelas Indofood akan merasa terluka karena produknya diperlakukan secara tidak berperikemanusiaan. Mie instan yang kalo diiklan sukses membuat bikin ngiler itu dimodif sedemikian rupa sehingga membuat musafir yang tidak makan setelah melakukan perjalanan dua bulan berjalan kaki tanpa makanpun tetap berpikir tiga kali untuk memakannya. Modifikasi “unik” yang mereka lakukan adalah dengan memasak mie sedikit gosong dan mengerak.

Sungguh mengagumkan sekali kemampuan memasak yang mereka miliki. Padahal tidak lama lagi mereka akan segera menjadi seorang istri. Memang, kemampuan memasak bukan termasuk kriteria yang disebutkan oleh uswah kita Rasulullah SAW. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Beliau menasehati umatnya untuk menikahi wanita karena empat hal, yakni: harta, nasabnya, kecantikannya serta agamanya. Dan Beliau menekankan pentingnya menjatuhkan pilihan berdasarkan ketaatan agamanya agar kita senantiasa beruntung. Dari hadits tersebut jelas sekali bahwa posisi ketaatan beragama sangatlah penting.

Namun hal ini tidak dapat dijadikan alasan pembenaran bagi para calon istri atas ketidakmampuan mereka untuk memasak. Seorang istri yang baik tentu akan selalu ingin membahagiakan suaminya. Dan sudah menjadi perintah Allah kepada para laki-laki untuk menikahi wanita yang menyenangkan hati mereka. Seperti firman Allah sebagai berikut:

Maka nikahilah wanita yang menyenangkan hati kalian!”(QS. An-Nisa:3).

Emang sih, seorang istri jelas gak mungkin untuk memenuhi segala keinginan sang suami. Dsinilah dituntut pengertian dari suami agar bisa menerima istri apa adanya. Tapi, sikap suami yang biasa menerima tidak bisa dijadikan tameng perlindungan bagi seorang istri untuk tidak mengakselerasi diri. Tetap saja istri harus meng-upgrade kemampuan dirinya. Setiap hari yang terlewati harus dijadikan ajang untuk terus memperbaiki diri agar tidak menjadi orang yang merugi.

Gw kemaren baru beli buku dengan judul “Membahagiakan Istri Sejak Malam Pertama” (MISMP). Yeaaahhhh mantap kan judulnya??!! Tapi kita gak membahas bab-bab mengerikan itu di edisi kali ini. Mungkin nanti akan kita bahas ketika MediaTop telah bermetamorfosis menjadi MenikahTop atau MunakahatTop. Tapi ada suatu hal yang menarik yang gw liat. Ketika gw membandingkan dengan buku yang satunya lagi yakni “Membahagiakan Suami Sejak Malam Pertama”(MSSMP), buku yang ditulis oleh pengarang yang sama, gw ngeliat bahwa buku kedua yakni MSSMP lebih tebal dari MISMP. Ada beberapa bab yang isinya kurang lebih sama, namun ada bab-bab yang isinya memberikan tanggungjawab lebih besar pada salah satu pihak. Di bab mengenai nafkah, jelas tanggung jawab suami lebih besar. Namun di bab mengurus rumah tangga peran istri yang lebih besar ditutut disana. mengurus anak misalnya. Di Jepang , dikenal konsep kyoiko mama yang kurang lebih maksudnya adalah bahwa sang ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Islam menunjukkan universalitas nilainya dalam hal ini dengan adanya konsep (gw lupa bahasa Arabnya) yang menyatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi sang anak. Peran ibu sebagai madrasah tentu menuntut kemampuan dan kemauan seorang wanita. Suatu hal yang –paling enggak menurut gw- sangat sulit ditemukan pada wanita calon ibu saat ini.

Ya begitulah. Mengerikan memang.

ukhtee(2:32:22 PM): an bc buku asma nadia

ukhtee(2:32:31 PM): catatan hati seorang istri

akhee(2:32:50 PM): (hmm.. :-/)

akhee(2:33:01 PM): baru denger

ukhtee(2:33:03 PM): bagus loh…

ukhtee(2:33:10 PM): nt bc deh

ukhtee(2:33:18 PM): an dh buat tulisan jg ttg buku itu

ukhtee(2:33:23 PM): tp lm bs buk ablog

ukhtee(2:33:27 PM): buka blog

ukhtee(2:33:32 PM): br sent lwt email aj

akhee(2:34:39 PM): someday ane cari dah

ukhtee(2:35:19 PM): pinjem2 aj dulu

ukhtee(2:35:46 PM): bgs buat yg mau blj br-empati sm yg namanya wanita

akhee(2:36:16 PM): bukan prioritas mbak.. (bukan artinya gak mao empati, tapi karena udah jago.. he. ujub)

ukhtee(2:36:40 PM): ya..i know…

ukhtee(2:36:50 PM): an kmarin bc jg krn d tantang sm mba sari

akhee(2:36:59 PM): kagak mbak.. becanda

ukhtee(2:37:07 PM): coz tmn2 abs baca buku itu jd ilfil sm laki2

akhee(2:37:31 PM): ha2. besok2 tuh buku bakal diboikot kali.

akhee(2:37:39 PM): kalo gitu mbak kudu baca bener2 tuh

ukhtee(2:37:45 PM): ya..boikot aja

ukhtee(2:37:53 PM): knp emangnya?

ukhtee(2:37:56 PM): dh khatam kok

akhee(2:38:01 PM): trus?

ukhtee(2:38:17 PM): an g jd ilfil sm laki2

ukhtee(2:38:27 PM): tp jd lbh ati2 aj

akhee(2:38:34 PM): berarti tuh buku sukses ape gagal?

akhee(2:38:38 PM): kayaknya sukses

ukhtee(2:38:41 PM): sukses

ukhtee(2:38:45 PM): banget…

ukhtee(2:38:54 PM): bikin an jd punya pikiran…

ukhtee(2:39:07 PM): kl perempuan, somehow, lbh kuat dr pd laki2

ukhtee(2:39:21 PM): kuat dlm arti sebenarnya..bukan sekedar kuat scr fisik

akhee(2:39:45 PM): menarik jg

ukhtee(2:39:48 PM): n stiap perempuan hrs sadar sm hal itu

ukhtee(2:40:18 PM): kl stiap kelemahan mreka hr ini…bs jd sumber kekuatan yg luar biasa besar d rumahtangganya kelak…

ukhtee(2:40:40 PM): prcaya ga?

ukhtee(2:40:50 PM): i am starting to believe it…

ukhtee(2:41:22 PM): n 1 hal lg…

akhee(2:41:39 PM): yaitu?

ukhtee(2:41:50 PM): slama ini…qt slalu terpolakan dg perempuan lbh gede perasaannya dr pd logikanya, y kan?

akhee(2:42:08 PM): lanjutin dulu

ukhtee(2:42:15 PM): tp skrg, an bs berpendapat…

akhee(2:42:22 PM): bahwa

ukhtee(2:42:30 PM): kl perempuan bisa lebih rasional dr pd laki2

akhee(2:42:40 PM): penjelasannya?

ukhtee(2:43:09 PM): penjelasan detil baca dr bukunya deh..

akhee(2:43:17 PM): contoh?

ukhtee(2:43:24 PM): itu yg an tangkep dr kisah2 yg ad di sana

ukhtee(2:43:57 PM): n kisah2..yg an lewatin setiap harinya,,,slh an nyemplung d pasca ampus

ukhtee(2:44:02 PM): pasca kampus

akhee(2:44:16 PM): hmm

ukhtee(2:44:20 PM): misal, dr buku, ttg suami selingkuh…

ukhtee(2:44:37 PM): kl memang perempuan nurutin ego, emosi, perasaan…

ukhtee(2:44:51 PM): perempuan pasti akan uring2an n minta d ceraikan

ukhtee(2:44:55 PM): ya, ga?

ukhtee(2:45:19 PM): tp, ternyata, msh ada perempuan yg lbh memilih utk blajar memaafkan..

ukhtee(2:45:33 PM): menata kembali hatinya…kepercayaannya sm suami…

ukhtee(2:45:49 PM): krn dia memikirkan anak2…dan keseimbangan RT nya

ukhtee(2:46:08 PM): misal, dr keseharian,

ukhtee(2:46:17 PM): perempuan yg bertugas ngatur keu RT kn?

ukhtee(2:46:48 PM): walo sebagian besar sumber dana keluarga berasal dr istri…

ukhtee(2:47:10 PM): dia g kn egois utk mentingin kebutuhannya aj

ukhtee(2:47:25 PM): byk lah, akh…

ukhtee(2:47:56 PM): yg intinya c…ga selamaya benar, kalo kelemahan perempuan itu akan selamanya berbentuk kelemahan

akhee(2:50:04 PM): (dari tadi ane cuma ngamatin aja tulisan2 antum sambil senym2 sendiri.. semangat bgt. bagus deh) yang jelas kita gak musti gontok2an untuk menentukan siapa yang lebih rasional ato emosional.. saling ngelengkapin aja ya. mbak udah mao ashar. an pamit.

ukhtee(2:50:21 PM): ok…

ukhtee(2:50:31 PM): coz bacanya bs ngluarin emosi…

ukhtee(2:50:37 PM): smoga bs k arah positif

ukhtee(2:50:48 PM): just like what i write

ukhtee(2:50:54 PM): monggo silahkan…

akhee(2:51:05 PM): sip. trus kalo ada ide jenius ttg hadiah mbak gita bilang2 ye

ukhtee(2:51:16 PM): sip…

akhee(2:51:19 PM): wassalamu’alaikum

ukhtee(2:51:23 PM): an tanya2 dl y

akhee(2:51:27 PM): iye

ukhtee(2:51:28 PM): wa’alaikumussalam

ukhtee(2:52:39 PM): n baca statement nt…an spakat bgt, n itu yg ikin an g bs ilfil sm laki2…krn bukan perbedaan yg d cari, tp bgmn cra nyatuin perbedaan itu

ukhtee(2:52:57 PM): n itu yg bs an simpulkan..u gave me the word, finally…

Suasana Fakultas Ekonomika dan Bisnis sedikit lengang. Maklum, tengah hari gini kebanyakan mahasiswa lebih memilih tamasya ke kapuk island daripada ‘stay tune’ di kampus, kalaupun ada, itu diasumsikan kuat karena  ada jadwal kuliah atau sedang ngenet. Namun, dua alasan tadi tak berlaku untuk Fadhil. Keberadaannya di fakultas tercintanya itu lebih didasarkan karena ia sedang mencari inspirasi cerpennya yang sedang kejar tayang. Dibawah pohon rindang, Fadhil termenung sambil komat-kamit, mirip  Aristoteles kunyah permen karet.

“Duh… susah banget sih merangkai kata aja, percuma donk ane dapet julukan Sang Pangeran Kata dari Bumi Engkong Pitung,” lirih Fadhil kesal.

Beberapa menit ia berkelebat dengan kedangkalan inspirasinya. Akhirnya ia putuskan untuk mencari tempat lain yang lebih menginspirasi pikirannya untuk merangkai kata. Sepuluh menit berlalu. Kini kakinya mengajak singgah di Boulevard. Ia sandarkan tubuhnya pada sebuah pohon peneduh yang ada ditepi jalan.Belum lama berselang, tiba-tiba…

“Assalamu’alaikum Akhi,” sapa Fuad

“Wa’alaikumussalam,” jawab Fadhil.

“Koq ga pake Warrohmatullah Wabarokaatuh? ‘Kan Allah berfirman: Udkhulu fi Silmi Kaaffah. Harusnya antum juga Kaffah donk jawab salam ana.”

“Ya ayyuhaldzina aamanu limataquuluuna maala taf’aluun,” balas Fadhil telak.

“Artinya??”

“Baca terjemahan surat As Shaaf ayat 2! Makanya kalo ikut kajian itu yang khusuk donk!”

“Antum tau aja ana dari kajian.”

“Ente ’kan kalo ngomongnya udah pake ana-antum paling gak jauh-jauh habis dari kajian. Siapa ustadnya?”

“Ustad Peci Al Burjo’i!” jawab Fuad.

“Ustad Peci Al Burjo’i?? Ente serius?”

“Serius donk akhi. Emangnya ana pernah bohong?”

“Jangan ampe ane keluarin surat As Shaff ayat ketiganya nih,” kesal Fadhil.

“Tentang??”

“Baca terjemahannya donk!”

“Wah, antum koq gitu! Antum gak inget hadist Balighuni walau Aayah?”

“Sok banget sih antum itu!”

“Apa ana salah?” kilah Fuad.

“Udah… udah..! ane lagi pusing nih. Ente jangan nambahin pusing ane deh!”

“Makanya cepat cari ummi buat anak-anak antum akhi. Biar kepala antum ada yang pijitin kalau lagi pusing.”

Mata Fadhil langsung terbelalak mendengar ucapan Fuad. Ia tidak menyangka Fuad bisa berkata begitu.

“Gini akh, kebetulan tadi kajiannya tentang ke-rumahtangga-an. Tadi Ustad Peci Al Burjo’i tanya ke ana tentang umur. Ana jawab aja 23 tahun, eh beliau malah menjalar ke nikah trus merambah ke dunia ibu. Mulai dari masak, nyuci piring, mengasuh anak, pokoknya all about ibu deh. Kayaknya beliau ahli Fiqh keibuan. Ujungnya ane disuruh segera cari ibu untuk anak-anak ana!” jelas Fuad.

“Waduh! Sebegitunya kah? Ente serius ustad ntu namanya Peci Al Burjo’i?” Fadhil angkat tanya lagi.

“E… sebenernya gak tau juga sih,”

“Lah Koq bisa ente panggil ustad Peci Al Burjo’i?” protes Fadhil.

“Pertama karena ana gak tau namanya, jadi ana namain sendiri. kedua karena beliau pakai peci. Ketiga karena tadi ana ketemu beliau sewaktu makan diwarung burjo.”

“Jadi kajiannya diwarung burjo?”

“E…e…” Fuad mengiyakan.

Fadhil hanya menghela nafas panjang mendengar penjelasan Fuad. Semilir angin siang yang dilumuri sengatan matahari seakan mengubur kepekatan hari.

“Btw kriteria calon ibu untuk anak-anak antum seperti apa?” Fuad angkat bicara.

Fadhil kembali dibuat tersentak mendengar pertanyaan Fuad. Namun, dengan santai dia menanggapinya.

“Simple! Muslimah, sholeha, bisa merawat keluarga, militan,  cerdas, and udah berhijab pastinya,” jawab Fadhil, “kalo antum?”

“Kriteria umminya anak-anak ana nanti juga simple. Cukup berparas Aisyah and berakhlak Khadijah aja,” jawab Fuad santai.

Fadhil hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.

“Apa sih yang antum harapkan untuk calon ummi anak-anak antum?”

“Ente koq semangat banget tanya-tanya ginian terus?”

“Emang gak Boleh? Daripada ana bicarain pacaran.”

 Pikiran Fadhil menerawang. Ia melayangkan imajinasinya tentang rumah tangganya nanti. Bersanding dengan istri tercinta ditemani keceriaan anak-anaknya. Hati Fadhil berdesir, sebait tanya melumuri hatinya, “kapan engkau datang wahai ummi anak-anakku?”

“Cie…! Lagi mikirin Farah ya?” seru Fuad usil.

“Sembarangan kalo ngomong,” Kilah Fadhil dengan wajah kemerahan menahan rona malu.

Tiba-tiba HP Fadhil bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Spontan dibukanya pesan tersebut. 

Ternyata dari sang bunda yang berada di Jakarta sana.

Aslm.wr.wb.

Gmn kbrmu anakku? Ttp rajin bljr ya. Jgn mikirin yg lain dulu. Km hrs fokus kuliah. Salam cinta dari Ummi-mu.

Rasanya Fadhil harus mengubur impiannya untuk segera menyempurnakan separuh agamanya. Fadhil hanya bisa duduk lunglai membaca sms tersebut.”Yah ummi, Fadhil ‘kan udah pengen!” lirihnya kecewa.